Baiturrahman


Tanggal 18 Agustus 2009 kemaren aku mendapat tugas dari kantor untuk ke Sangatta, Kabupaten Kutai Timur-Kaltim. Buat saya ini adalah kesempatan pertama untuk menginjakkan kaki ke tanah Borneo. Dan pastinya saya terima dengan senang hati pekerjaan ini.
Disini saya tidak akan menceritakan tentang pekerjaan melainkan hanya sedikit cerita tentang perjalanan pertama saya di tanah Kalimantan ini.
Dengan pesawat Lion Air pemberangkatan terakhir pada hari itu, yang sempat delay sekitar 1 jam. Berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Cengkareng jam 19.30, penerbangan diperkirakan kurang lebih 2 jam. Mengingat adanya perbedaan waktu 1 jam antara WIB dan WITA, saya mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan jam setengah sebelas malam, dan sudah dijemput oleh travel pesanan kantor sebelumnya. Perjalanan yang rencananya akan langsung menuju Sangatta, ada sedikit perubahan, jadinya malam itu menginap di hotel Diamond Samarinda. Baru pagi harinya perjalanan dilanjutkan menuju Sangatta, Kutim.

Boardingpass Lion Air
Setelah selama 4 tahun kami menghuni ruko di Jalan Teuku Umar No 31, Seutui Banda Aceh, akhirnya kemaren tanggal 7 Februari 2009, kami harus meninggalkannya.

Ah, Baru sempet nyelesaiin tulisan ini…..
Jika beberapa saat yang lalu saya menulis tentang perjalanan mudik lebaran dengan kisah perjalanan lintas timur (JALIN) Sumatera, Episode kali ini akan sedikit berbagi cerita kisah perjalanan balik lebaran dengan lintas barat Sumatera.
Ngomongin perjalanan balik lebaran tentunya akan saya mulai dari Ponorogo, kampung halaman tempat berkumpulnya keluarga besar.
Setelah saya menyatakan tidak berangkat bareng dengan temen-temen waktu mudik dulu, karena saya ingin singgah dan menemani perjalanan baliknya Al ke Bandung, nyarilah kita tiket bus Ponorogo-Bandung dan dapatlah tiket bus Pahala Kencana tanggal 7 Oktober 2008. Itupun ternyata udah dapet tempat duduk paling belakang deket toilet. Ga ada pilihan lain, jadinya ya ngikutin aja apa adanya. Keinginan datang ke Bandung sebenernya sudah sejak ketika arus mudiknya, kalau saja waktu itu jadwalnya ga mepet banget.
Sampai di Bandung tanggal 8 pagi, dan keinginan pertama sesampainya disana adalah nonton bioskop film Laskar Pelangi. Berdua, berdesakan di BIP Bandung. Selain Nonton, keinginan berikutnya adalah wisata kuliner, terutama adalah Nasi bakarnya.
Lebaran, selain bermakna sebagai hari perayaan kemenangan (Khususnya bagi umat muslim yang telah menjalankan puasa ramadhan) juga bermakna fitrah, kembali ke asal, suci. Dalam berbagai hal lebaran juga di jadikan suatu kegiatan libur bersama, dan moment bersilatuhrahmi kepada orang tua, sodara, tetangga, sahabat serta kerabat.
Secara pribadi, tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat saya kepada kerabat, tetangga, saudara, saya menyempatkan diri untuk selalu merasakan setiap hidangan pada semua tempat yang saya kunjungi. Memang, tidak semua yang di hidangkan aku cicip. Tapi, meskipun hanya sejumput kacang atom, pasti saya akan menikmati hidangan di rumah tersebut.
Sepertinya sudah lama banget aku ga kesini. Aku teringat, terakhir kali ke Telaga Ngebel itu adalah saat belom lulus STM. Itu artinya sudah 11 tahun lebih. Dan setelah 11 tahun, pemandangan alam di Telaga ngebel ini masih tetap cantik dan mempesona.
Hanya saja, pas kesini kemaren ada banyak pandangan yang membuat kami merasa risih dengan banyaknya pasangan yang mesra-mesraan, tanpa mengenal malu pada sekitarnya. meskipun aku ke sini juga bersama Alif… tetep aja merasa malu dan risih dengan pandangan ini. Hehehe…, maaf, mungkin aku ga terbiasa melihatnya…
Byuh. Mudik buat kami bukan suatu yang sederhana. Mudik merupakan pekerjaan tersendiri yang harus direncanakan secara matang plus itung-itungan yang njlimet. Ada banyak hal yang harus disesuaikan dengan mudik ini. Dari itung-itungan jadwal pekerjaan, jadwal penerbangan, lama waktu mudik, dan yang paling penting adalah biaya mudik. Dan diantara itu semua, yang paling njlimet adalah itung-itungan biaya. Karena jarak yang tidak dekat kalo di tempuh dari ujung indonesia paling barat ini.
Betapa tidak, suasana kota Sabang sedemikian mendukung untuk pemberian judul di atas. Sabang yang damai, didukung perilaku masyarakat yang tenang dan berbeda dari yang lain. Geliat kehidupan yang tenang dan damai ini tercermin dari kesadaran yang lumrah dalam melakukan aktivitas, khususnya para swasta/pedagang di kota ini. Mari kita lihat suasana kota Sabang pada siang hari, selepas waktu Sholat Dzuhur mereka beristirahat dari aktivitas bisnisnya sampai selepas maghrib kembali membuka toko dan barang dagangannya. Suasana lengang pasti akan kita dapati pada jam-jam ini di kota Sabang, paling mencolok adalah suasana jalan perdagangan sebagai poros ekonomi kota ini.
Suatu sore di Pantai Lampuuk – Aceh Besar

Canon EOS Kiss digital N, Canon EF-S 18-55mm, 1/100s F/9 Iso 200

Canon EOS Kiss digital N, Canon EF-S 18-55mm, 1/400s F/9 Iso 200