Kembang Jepun
Inilah kemegahan cinta yang tulen,
yang pernah berakar,
dan pernah berantakan
tapi kini kembali menggaung
karena nurani yang
tidak pernah menyerah.
Ia dipijak, dianiaya, diperkosa,
dan dipaksa untuk mati,
tapi tak pernah ia merasa kalah,
tak pernah ia binasa…
Novel karya Remy Sylado ini adalah roman, namun dilatari oleh sejarah perjuangan bansa Indonesia dari masa pendudukan kompeni, Jepang, dan masa kemerdekaan-yes, tiga jaman sekaligus-, membuat keindahannya tiada tara.
Keke, gadis asal Manado, sejak usia 9 tahun telah dijual oleh kakaknya kepada Kotaro Takamura (seorang pengusaha rumah hiburan di Surabaya), untuk dijadikan geisha. Bisnis Kotaro Takamura di tahun 1929 kala itu sedang seret, selain karena perekonomian dunia yang sedang mengalami krisis, juga dikarenakan sejak tahun 1926 (pemerintahan Taisho) di Jepang mulai diberlakukan undang-undang perdata yang salah satunya melarang perzinaan, sehingga tak mungkin mendatangkan geisha asli dari Jepang. Padahal geisha yang dimilikinya sudah mulai menua dan kurang diminati pelanggan lagi. Maka, perempuan2 asal Manado yang berkulit putih bersih dan mata sipit layaknya perempuan Jepang -layaknya Keke dan teman2nya- yang menjadi ganti. Melalui gemblengan keras Yoko-seniornya- pada usia 14 tahun Keke telah menjadi kembang di antara para geisha. Oleh Kotaro Takamura namanya dirubah menjadi Keiko, supaya benar2 dikira geisha asli Jepang. Keiko sukses mengembalikan keramaian di rumah hiburan milik Kotaro Takamura.
Namun di puncak karir ke-geisha-annya, Keiko bertemu Tjak Broto. Wartawan Tjahaja Soerabaja yang meliput tentang kebangkitan usaha Kotaro Takamura, yang kemudian menyerahkan keperjakaannya kepada Keiko. Mereka berdua saling jatuh cinta. Tjak Broto ingin menikahi Keiko dan mengeluarkannya dari rumah geisha.
“Kita hidup bersama. Satu rumah. Kita akan punya anak. Kau ajar mereka menyanyi. Saya bikin puisi untuk dinyanyikan. Nah, bagaimana?” (Bab Sembilan, halaman 95)
Selanjutnya mereka menjalani pernikahan bersamaan dengan masuknya Jepang menjajah Indonesia. Bertani, meskipun sebagian besar hasilnya diambil paksa tentara Nippon, mereka tetap bahagia. Adalah sebuah kejadian penting yang perlu dicatat, yang akan mempengaruhi perjalanan cinta Broto-Keke ke depannya. 14 Februari 1945 terjadi pemberontakan PETA, dimana Broto sama sekali tidak terlibat namun ikut terseret karena keluguannya. Broto akan segera digantung di Blitar. Kalau saja tidak dengan pengorbanan istrinya:
“Saya Keiko, Ayah saya Kotaro Takamura. Saya lahir di Kotshi 24 tahun yang lalu. Pada umur 9 tahun, ayah saya membawa saya ke Surabaya, membuka restoran. Lantas empat tahun lalu saya kawin dengan suami saya, dan tinggal di sini” (Bab Sembilan Belas, halaman 197)
Dengan berbohong seperti itu Keiko bisa membuat surat jaminan untuk membebaskan suaminya dari maut, yang malangnya malah mengantarkan kesengsaraan bagi dirinya. Keiko ditahan oleh petinggi tentara Nippon, Hiroshi Masakuni. Diperkosa, dirampas dari suaminya. Pada masa kekalahan Jepang, Keiko dipaksa untuk ikut pulang ke Jepang untuk dijadikan istri Hiroshi Masakuni. Sedangkan Broto yang terbebas dari hukuman mati, mengira istrinya hilang.
Dua tahun lamanya Keke menjadi tawanan Hiroshi Masakuni di rumahnya di Jepang, sampai Hiroshi mati dalam perang Korea. Keke membebaskan diri, kemudian 12 tahun bekerja sebagai babu hanya untuk pulang ke Indonesia, ke suaminya, Broto.
Keke tak lagi muda dan cantik ketika tiba di Indonesia. Dicarinya Broto di Surabaya, tidak ia temukan. Dicarinya ke Blitar, ke rumah nenek Broto… Mbah Soelis mengatakan bahwa Broto sudah menikah lagi karena mengira Keke sudah meninggal.
“Mbah, kalau suatu ketika Broto ke sini, tolong Mbah bilang, kalung yang pernah diberikannya pada saya itu, tetap saya pakai sampai sekarang” (Bab Dua Puluh Empat, halaman 265)
Di bagian inilah saya nangis ngguguk. Emosi saya terobrak-abrik. Memang tidak bisa diabaikan Broto telah mencari. Sambil memanggul senjata melawan penjajah Broto senantiasa mencari Keke, istrinya. Tapi maksud saya… kalopun toh Keke dianggap mati, temukan jenazahnya dulu baru tega kawin lagi.
Joesoep Soebroto memang tidak digambarkan sebagai laki-laki suci belaka. Broto adakalanya ada di jalur kanan, jalur tengah, bahkan kiri. Contohnya pada masa kemerdekaan ketika itu di masa orde baru Broto juga terbawa arus saat itu, dari PNI yang diusung Soekarno dan pindah menjadi jurkam Golkar. Konon semua itu Broto lakukan semata hanya untuk modal, supaya bisnisnya lancar.
Adapun Keke digambarkan sebagai perempuan yang sangat kuat, baik hati maupun fisiknya. Saya sebagai pembaca jujur malah merasa lelah oleh iba begitu Keke dihadapkan pada siksa, lagi.. dan lagi… panjang… bak choki-choki. Membalik halaman demi halaman saya akan bertanya2.. “kapan Keke berhenti disiksa dan diperkosa?”, karena di usia 36 tahun saat dia hendak pulang ke Manado-pun, dia masih saja ditawan dan dijadikan budak seks oleh tentara Permesta.
Secara keseluruhan, novel ini bagus, dan sangat layak baca. Tidak hanya kita ikut terbawa oleh kisah cinta yang begitu indah, tapi juga pengetahuan tentang Indonesia di masa itu banyak sekali kita dapat disini. Remy Sylado menggambarkan tempat, peristiwa, tahun kejadian dengan sangat akurat. Ini memang novel yang terbit tahun 2003 (pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Surabaya Pos, 1990-1991), tapi dengan menyesal saya baru membacanya sekarang.
Review By Alifa Wahib