Kesehatan Mahal, atau Dokter tidak Profesional?
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 7 Mei 2009 saya nganterin temen yang sakit, diduga typus dan DBD ke RS yang berada di jalan Teuku Umar Banda Aceh. Sesampainya di UGD RS tersebut langsung ditangani oleh seorang Dokter Umum. Beberapa keluhan sakit diutarakan oleh temen saya tersebut, sehingga kemudian dokter tersebut merujuk pada dokter spesialis penyakit dalam dan jantung.
Keputusan berikutnya adalah temen saya tersebut harus menjalani rawat inap di RS tersebut untuk menjalani perawatan dan diagnosa lebih lanjut. Keesokan harinya (Jum’at, 8 Mei 2009) dilakukan photo rongent, hasilnya adalah didalam tubuh (paru-paru)nya terdapat cairan atau kalo biasa saya menyebutnya paru-paru basah (hampir tenggelam) seperti yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Tidak seperti dugaan awal yang typus atau DBD.
Dari dr. tersebut kemudian dijanjikan penyedotan (penghisapan cairan) hari Sabtu pagi, 10 Mei 2009. Kami menunggu tindakan dokter, satu jam, dua jam dokternya ngga datang, sampai sore ngga ada kabar dari dokter, perawat pun sudah beberapa kali kontak dokternya dan katanya sebentar lagi datang (katanya masih makan siang, makan malam dan terus saja begitu hingga malam), demikian juga untuk keesokan harinya, minggu 11 Mei 2009, ngga ada kabar dari dokter, dan bahkan ditelpun pun tidak aktif. Minggu sorenya dokter datang, yang katanya akan segera dilakukan tindakan. Tapi sebelumnya masih akan di USG dulu untuk mencari posisi penghisapan (yang lebih lanjut kami ketahui, bahwa itu bukan USG seperti yang dikatakan dokter ke kami, melainkan adalah ECHO yang dipergunakan untuk pemeriksaan jantung). Buat apa ya?? kan sakitnya bukan itu ? Entahlah….
Kronologis selanjutnya adalah setelah itu pasien dibiarkan lagi, ditungguin berjam-jam dan ngga kunjung ada kabarnya. Kami semua rasanya pengen emosi, perawat pun sudah keliatan ngga nyaman dengan kami. Setelah sampai dengan jam 22.15 menunggu, ngga ada kabar juga dari dokter, kami memutuskan untuk keluar dari RS tersebut dengan nggondok, karena harus membayar hampir 6 juta (rawat inap plus obat-obatan) dan TIDAK mendapatkan penanganan yang semestinya.
Esok paginya, Rudi (temen saya yang sakit itu), diantar ke RS Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) atas rekomendasi dr. Bahagia. Dan mendapatpan penanganan dari Dr. Lutfi, dokter spesialis paru. Dan untuk penanganannya harus dengan prosedur seperti sebelumnya. Dari rongent kemudian USG (setelah dijelaskan bahwa yang sebelumnya itu adalah bukan USG melainkan ECHO). Apa coba maksud dari dokter SpPD itu melakukan foto ECHO, padahal sakitnya kan udah terdeteksi ?
Jelas, gondok banget lah…. Gimana bisa ya ada seorang dokter (udah spesialis pula) dan sepertinya sudah kehilangan sisi humanismenya dan ngeremehin sakit yang diderita orang lain, jadinya saya ngeliatnya komersil belaka. Lagian, sangat tidak profesional ketika penanganannya seperti itu.
Dengan kwalitas pelayanan RS seperti tersebut, maka nggak heran kalo sebagian masyarakat di Aceh memilih berobat ke negeri tetangga (baca : Penang-Malaysia), selain biaya ke Penang relatif lebih murah (daripada ke Jakarta) juga bisa memperoleh pelayanan yang lebih bagus.
Pesan moralnya : pertama adalah jagalah kesehatan, kalo bisa jangan sampe sakit apalagi masuk Rumah Sakit dan ketemu ama dokter ngawur, melakukan hal-hal yang seharusnya tidak perlu hanya untuk menambah pengeluaran biaya oleh pasien untuk. Kedua berusahalah mencari dokter yang masih memiliki rasa tanggung jawab dan humanis, dengan semangat mengabdi pada sesama. hindari berobat pada dokter yang hanya melihat keuntungan buat dirinya sendiri, karena malah akan bikin sakit hati nantinya. meskipun kita sama-sama tau bahwa sekolah dokter itu juga mahal. Ketiga adalah hati-hati dengan Malpraktek, karena banyak dokter yang takut kehilangan pasiennya, sehingga dia bersedia menangani pasien walaupun bukan bidang keahliannya.
yah… begitulah kalo seorang dokter hanya termotovasi m ateri dan bukan rasa perikemansuiaan..
Temannya sekarang gimana, sudah sembuh??
“yang tak berduit dilarang sakit”
sepertinya itu slogan baru yg marak sekarang ini mas
yach begitulah om para dokter kalau keseringan berinteraksi dengan alat-alat kesehatan hati dan perasaannya juga mati seperti benda-benda itu
seperti pas saya sakit dulu….
mau pulang saja kok dadak harus nunggu dokter “vak”nya datang, luama banget.
Sebegitu parahkah endonesia yg negri bbm ini?
jaga kesehatan kalo gitu ya…
Hmmm..,kurang bertanggung jawab ama profesi karena segalanya di ukur dengan materi kali..
Pemeriksaanya ntu kq mulai dari awal lagi,kalo ganti dokter kira-kira apa melalui prosedur yg sama yah..???
dokter keparat!™
begitulah kalau uang sudah berbicara
Jarang ada dokter yg tulus lagi…………..
Itulah Indonesia-mu, Indonesia-ku juga…
*turut prihatin*
Suatu penyakit kadangkala memiliki sympthom ataupun sign (gejala) yang hampir sama satu dengan yang lain, sehingga seorang dokter hanya bisa menegakkan apa yang namanya DD dan DW. Diagnosis Pasti atau Diagnosis Banding (dimana diagnosis yang kedua mirip dengan diagnosis yang pertama) Test Laboratorium biasa digunakan seorang dokter untuk menentukan paling tidak mendekati diagnosis pasti sebelum melakukan tindakan medis. Insya Allah bermanfaat
Makasih atas infonya….
———————————–
artikel kesehatan
download pdf jawapos
yoga
yoga
review
dunia ini emank udah kacau..
semuanya sekarang mahal
Saran pertama saya, siapkan koin yg banyak. UU ITE belum dibatalkan jadi anda bisa menjadi Prita baru.
Saran kedua, dukung pembatalan UU ITE dan hukum pembuatnya.
Komentar saya: mungkin Aceh sudah hampir habis minyaknya, sehingga tidak ada pelayanan rumah sakit gratis seperti di Papua. Disana emasnya masih banyak jadi Freeport membuat layanan kesehatan yg luar biasa. Orang Papua bebas keluar masuk rumah sakit tanpa bayar sepeserpun. Orang sakit dijemput helikopter gratis.
Menakjubkan sekaligus ironis.