Moga Bunda Disayang Allah

mbdA

Penulis : tere-liye

Penerbit : Republika

Terbit : 2006

Tebal : 246 halaman

Review by      : Alif Alkhusna

“Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. Kosong. Tak ada warna…. Senyap! Melati hanya mendengar senyap. Sepi. Sendiri. Tak ada nada…”

Kisah ini bersetting di sebuah kota pelabuhan yang damai, dengan pantai yang indah dan dikelilingi oleh perbukitan. Kota yang tidak besar, namun juga tidak kecil ini sangat tenteram dan menyenangkan bagi penghuninya. Kota yang menjanjikan hari-hari yang indah meski di sana-sini terdapat kehidupan yang tidah selalu seindah kota ini, seperti hidup Melati…

Melati, gadis kecil ini berusia 6 tahun. Wajahnya lucu, menggemaskan dengan pipi tembam layaknya kanak-kanak. Rambutnya ikal mengombak, bola matanya hitam selegam biji buah leci, dan gigi bak gigi kelinci. Melati, si cantik putri tunggal keluarga HK, pengusaha yang tidak hanya terkenal kaya raya, tapi juga baik hati. Melati seharusnya tidak kekurangan suatu apa. Ayah-Bundanya begitu penuh cinta, tinggal di istana megah di lereng bukit yang dilengkapi dengan 9 orang pembantu yang setia. Ya, Melati seharusnya bahagia, seandainya saja si kecil itu tidak buta dan tuli.

Buta dan tulinya Melati bukanlah bawaan dari lahir, tetapi akibat kecelakaan yang menimpanya tiga tahun lalu kala berlibur ke pantai dimana sebuah brisbee (mainan piring terbang) yang tidak sengaja terlempar membentur kepalanya. Sejak saat itulah Melati dinyatakan buta, dan tuli. Melati seperti bayi yang baru lahir kembali dengan beberapa indera yang dicabut sekaligus. Melati tidak bisa melihat walau hanya selarik cahaya. Jika hanya buta, ia mungkin masih bisa mendengar, masih punya cara untuk mengenal dunia. Tapi Melati juga tuli. Ia tidak dapat mendengar walalu hanya satu nada, ia tidak dapat bicara selain mendesiskan suara yang tidak berbentuk kata, atau meneriakkan kosakata “BAAA…”, “MAAA…”, hanya itulah yang dikuasainya. Melati bahkan tidak bisa membedakan mana sendok, mana garpu, serta mana Ayah, mana Bunda. Bunda yang kesehatannya sering memburuk saking sedihnya melihat kondisi Melati, Bunda yang tetap bersabar meminta keajaiban Tuhan, Bunda yang setiap malam membasahi sajadahnya dengan airmata mengadu pada Tuhan.

Semua jenis penanganan medis sudah diusahakan Tuan dan Nyonya HK. Mulai dari mendatangkan dokter anak, psikiater, terapis terbaik untuk Melati, tapi sia-sia. Tim dokter justru membuat hati Bunda berdarah dengan memvonis bahwa Melati butuh Rumah Sakit Jiwa. Tidak…putrinya tidak gila! Jerit hati Bunda. Di tengah segala keputus-asaan itulah, datang sebuah cerita tentang seorang Karang…

Karang mencintai kanak-kanak bukan karena mereka terlihat lucu dan menggemaskan, tapi karena di tangan merekalah masa depan yang lebih baik, yang lebih indah memaknai hidup dan dunia…

Karang adalah yatim-piatu miskin yang tak beruntung, yang melewatkan masa kecilnya sebagai anak jalanan yang kemudian tinggal di sebuah rumah singgah. Dari pemilik rumah singgah itulah ia mewarisi kecintaannya pada kanak-kanak. Karang pergi ke ibu kota untuk merintis mimpi-mimpi besarnya. Dengan dibantu oleh beberapa relawan, Karang mendirikan puluhan Taman Bacaan Anak-Anak serta rumah singgah bagi mereka. Karang mengajarkan anak-anak jalanan memaknai dan mencintai kehidupan. Karang mengajarkan anak-anak mencintai alam. Karang mengajarkan anak-anak apa saja…

Anak-anak mencintai Karang sebagai kakak dan guru yang baik. Penduduk kota mengenal Karang sebagai pemuda yang hebat. Dia menampung anak jalanan, membuat sekolah informal, menjanjikan masa depan bagi mereka. Hingga kejadian buruk tiga tahun lalu, yang membuat Karang menyalahkan dan menghukum dirinya sendiri. Kecelakaan yang terjadi pada kapal nelayan berkapasitas empat puluh orang yang membawa Karang dan anak-anak jalanan berwisata. Kecelakaan yang menewaskan 18 anak-anak asuh Karang. Karang sebagai penangggungjawab diinterogasi, diperiksa penyidik berhari-hari. Meskipun akhirnya pengadilan menyatakan Karang tidak bersalah, dan seluruh penduduk kota juga tidak menyalahkannya, namun Karang-lah yang menyalahkan dirinya sendiri.

Karang memutuskan pergi, meninggalkan Taman Bacaan, meninggalkan anak-anak asuhnya, meninggalkan Kinasih – gadis lesung pipi yang dikasihinya, membakar semua mimpi, cita-cita, dan harapannya tentang anak-anak. Memutuskan pulang ke Rumah Singgah yang membesarkannya dan tinggal hanya berdua dengan Ibu angkatnya, Karang melewati tiga tahun terakhir dengan hari-hari yang buruk dan kelam. Praktis tidak melakukan apa-apa selain menyendiri dan menenggak minuman keras.

Hingga suatu hari, Bunda HK datang memohon kepada Karang untuk menolong Melati. Dengan caranya yang awalnya kasar dan nyentrik Karang mengajari Melati. Bahkan dibutuhkan waktu seminggu untuk Karang mengenalkan kepada Melati bagaimana makan dengan sendok. Bisa makan dengan sendok bukanlah kemajuan yang memuaskan. Karang ingin mengajari Melati mengenal dunia. Sebulan berlalu…lelah, penat, diselingi dengan Melati jatuh sakit yang membuat Karang nyaris putus asa. Tapi Karang (dan Melati) tidak pernah menyerah, terus mencari dan memikirkan jalan bagaimana mengajarkan Melati berkomunikasi. Hingga Melati bisa mengatakan “Moga Bunda disayang Allah…” dengan bahasanya sendiri. Subhanallah… Melati juga yang akhirnya bisa mengembalikan Karang pada mimpi-mimpi besarnya, mengembalikan semangat Karang untuk terus megajarkan kehidupan pada anak-anak jalanan, mengembalikan Karang kepada Kinasih-nya…

***

Tere-liye menuturkan cerita ini dengan bahasa yang sangat indah. Beberapa kejadian yang dituliskan dalam novel ini membuat dada saya sesak oleh haru dan meneteskan air mata, seperti kejadian saat pertama kalinya Melati bisa makan dengan sendok setelah tiga hari dihukum tidak akan diberi makan kecuali mau makan dengan sendok. Membacanya membuat saya sangat tersentuh, seolah saya ikut menjadi tokoh dalam cerita. Sampai sekarangpun saya masih terbayang-bayang sosok Melati, dan ingin mengenalnya (kalau memang betulan ada).

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment