Penulis : tere-liye
Penerbit : Republika
Terbit : 2006
Tebal : 246 halaman
Review by : Alif Alkhusna
“Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. Kosong. Tak ada warna…. Senyap! Melati hanya mendengar senyap. Sepi. Sendiri. Tak ada nada…”
Kisah ini bersetting di sebuah kota pelabuhan yang damai, dengan pantai yang indah dan dikelilingi oleh perbukitan. Kota yang tidak besar, namun juga tidak kecil ini sangat tenteram dan menyenangkan bagi penghuninya. Kota yang menjanjikan hari-hari yang indah meski di sana-sini terdapat kehidupan yang tidah selalu seindah kota ini, seperti hidup Melati… read more »
Betapa tidak, suasana kota Sabang sedemikian mendukung untuk pemberian judul di atas. Sabang yang damai, didukung perilaku masyarakat yang tenang dan berbeda dari yang lain. Geliat kehidupan yang tenang dan damai ini tercermin dari kesadaran yang lumrah dalam melakukan aktivitas, khususnya para swasta/pedagang di kota ini. Mari kita lihat suasana kota Sabang pada siang hari, selepas waktu Sholat Dzuhur mereka beristirahat dari aktivitas bisnisnya sampai selepas maghrib kembali membuka toko dan barang dagangannya. Suasana lengang pasti akan kita dapati pada jam-jam ini di kota Sabang, paling mencolok adalah suasana jalan perdagangan sebagai poros ekonomi kota ini. read more »