Persahabatan Malaikat Pencabut Nyawa

“Ini sebuah dongeng kuno tentang seseorang yang sakit, lalu di datangi oleh malaikatpencabut nyawa. Orang sakit itu lalu bertanya, ‘kau datang kepadaku sekedar ingin berkunjung atau ingin mencabut nyawaku?’ Malaikat itu menjawab bahwa dia datang sekedar berkunjung.”
“Orang itu lalu berkata lagi,’Demi persahabatan kita, jika waktuku mati kelak sudah dekat, tolong kirimkan utusan agar aku bisa bersiap-siap menghadapi maut.’ Sang malaikat menyanggupi. Setelah beberapa lama berselang, malaikat itu kembali mendatanginya dan mengatakan bahwa dia hendak mencabut nyawanya.”
“Orang itu berontak. Dia berkata, ‘Bukankah kau berjanji hendak mengirim utusan kalo waktu matiku sudah dekat?’ Malaikat itu menjawab,’Sudah… sudah. Bahkan, utusanku beberapa kali datang kepadamu.”
“Malaikat itu berkata lagi, ‘Bukankan tulang punggungmu bungkuk, padahal sebelumnya lurus? Bukankah rambutmu mulai memutih, padahal sebelumnya hitam legam? Suaramupun kini gemetaran, sedangkan dulu lantang? Bahkan akhir-akhir ini tubuhmu melemah, sedangkan dulu kau gagah perkasa? Pandanganmu semakin rabun, padahal dulu begitu jeli? Kau hanya minta satu utusan, sedangkan aku mengirimkan begitu banyak. Lalu mengapa kau masih juga menganggapku tak menepati janji ?”

(Samita : Bintang Berpijar di Langit Majapahit, Hal. 390)

Popularity: 40% [?]

3 Comments »

  1. Comment by ulan
    July 1, 2008 @ 8:55 am

    wah… nice quote..

  2. Comment by dudi
    July 6, 2008 @ 9:45 am

    wes tuwek, mambu lemah, napas menggis menggis, kok sek gak paham ae lek wes atene di terminate.

    boso gaul’e sing mbok tulis ndek duwur lak koyok sing tak tulis ndek duwur iki to ceng? kekekeke

  3. Comment by Supermance
    August 3, 2008 @ 6:35 am

    wew, nice post :)

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment