Tarian Bumi

“Itu namanya ketololan!”
“Ketololan? Tiang tidak mengerti.”
“Tugeg, Tugeg harus catat kata-kata tiang ini. Bagi perempuan Bali bekerja adalah membuat sesaji, sembahyang dan menari untuk upacara. Itu yang membuat kesenian ini bertahan. Orang-orang dulu tidak membedakan mana aktivitasnya sebagai dirinya dan mana aktivitasnya dalam berkesenian. Mereka menari karena ada upacara-upacara di pura. Sekarang? Tidak lagi. Tiang dilahirhan untuk tetap menjaga taksu tari. Taksu yang mulai dirusak oleh orang-orang yang makan sekolahan terlalu kenyang. Mereka tidak tahu seperti apa inspirasi itu keluar dan mengganggu pikiran seorang pencipta tari. Mereka tinggal menjualnya, mempertontonkan kita di hadapan orang-orang asing. Mereka tidak belajar dari orang-orang luar, bagaimana harus menyelamatkan peninggalan peradaban yang sangat mahal ini. Peradaban yang tidak bisa di beli dengan usia sekalipun.”
“Tiang tidak memerlukan pengakuan atau tercatat dalam sejarah. Tidak. Orang-orang dulu sudah senang karya mereka menjadi hiasan di pura. Itu pengabdian yang sesungguhnya. Dulu tiang senang mengajar di sekolah tinggi. Murid-muridnya terlihat serius untuk memperdalam tari. Sayangnya, mereka tidak berusaha menyimpan dan mencatat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka belajar sekedar untuk lulus. Mereka tidak menginginkan yang lebih. Meneliti, misalnya. Justru orang-orang asing yang sering mengunjungi tiang, bertanya banyak hal. Tiang perempuan bodoh. Tidak bisa membaca, tidak bisa menulis. Yang tiang herankan, kemana larinya orang-orang yang sudah kenyang makan sekolahan itu? Kenapa bukan mereka yang menulis tentang bumi ini, peradaban ini? Tiang tidak mengerti. Bahkan, mereka tega menawari tiang untuk jadi tontonan di hotel-hotel dengan bayaran yang sangat tidak pantas. Semua telah berubah. Tiang jadi tidak mengenal tanah kelahiran tiang sendiri.”
***
Diambil dari Novel Tarian Bumi, Karya Oka Rusmini halaman 92-93. Novel lama yang baru saya baca. Kisah tentang bangsawan Bali dalam kehidupan keseharian mereka. Dipadukan dengan kultur-sosio-religi yang berlaku pada masyarakat Bali.
Sebuah novel pemberontakan yang mengingatkan saya pada novel lain, Gadis Pantai, karya Pramoedya Ananta Tour, yang juga mengisahkan budaya dari Golongan masyarakat Priyayi Jawa jaman dulu. Dimana masyarakat masih terbagi atas tingkatan kasta-kasta.
***
Kutipan diatas juga saya dedikasikan buat teman saya yang belum lama ini tercatat dalam buku “Kisah 20 Pemuda Indonesia Yang Mengukir Sejarah”
Popularity: 42% [?]
woloh denmas tjokro memang hebat! pemuda emas!