Perempuan Di Titik Nol (Nawal el-Saadawi)
“…karena aku perempuan cerdas, aku memilih menjadi pelacur bebas daripada istri yang tertindas…”
Sebuah buku lama yang berkisah tentang perjalanan hidup seorang perempuan Mesir bernama FIRDAUS dari masa kecil di desa, besar menjadi pelacur hingga menjelang ajalnya yang disebabkan vonis hukuman mati dikarenakan ia membunuh seorang germo.
Firdaus, ia adalah seorang perempuan yang menjadi/dijadikan Korban oleh budaya patriarki, Sosok perempuan yang biasanya di anggap lemah, tapi mampu melahirkan kekuatan yang hebat, mendatangkan ketakutan karena telah membuka tameng kemunafikan yang terselimuti oleh religi dan asumsi.
Sejak masih kecil Firdaus telah di tinggal mati oleh kedua orang tuanya, kemudian ia hidup dan tinggal bersama pamannya. Hingga suatu saat setelah beranjak dewasa, pamannya jualah yang pertama memperkosanya, mengawinkannya dengan seorang yang menjadi algojo penyiksaannya. Firdaus melarikan diri dan bertemu dengan pria-pria pemerkosa selanjutnya, sampai bertemu dengan germo yang menjual dirinya untuk mendapatkan keuntungan materi dirinya sendiri, tanpa peduli pada Firdaus. Dari germo inilah kemudian Firdaus mendapat pelajaran bahwa kita sendirilah yang menentukan harga untuk diri kita. Hingga kemudian Firdaus bisa mematok harga tertinggi dari pelacurannya.
Sambil menenteng ijasah sekolah dasar dan sekolah menengahnya Firdaus melarikan diri dan mencari pekerjaan yang “lebih terhormat”. Karena dari kata-kata inilah ia mendapatklan motivasi hingga mendapatkan pekerjaan menjadi seorang karyawati biasa. Sampai saat Firdaus merasakan jatuh cinta pada Ibrahim, cinta yang membawa rasa sakit yang terlalu dalam buat Firdaus.
Saatnya telah tiba bagi saya untuk melepaskan butiran yang terakhir dari kebajikan, tetesan terakhir dari kesucian di dalam darah saya. Kini saya telah sadar mengenai kenyataan, mengenai kebenaran. Kini saya telah tau apa yang saya inginkan. Kini tak ada lagi ruangan untuk khayalan. Seorang pelacur yang sukses lebih baik daripada seorang suci yang sesat—- Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun diatas penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita. (hal. 126)
“Saya bukan pelacur. Tapi sejak semula, ayah, paman, suami saya, mereka semua mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai seorang pelacur” (Hal. 144)
“Saya seorang pembunuh, tetapi saya tidak melakukan kejahatan. Seperti kalian, saya hanya membunuh penjahat.”
“Saya mengatakan yang sebenarnya. Dan kebenaran itu adalah liar dan berbahaya.” (hal.146)
“Mereka menghukum saya sampai mati bukan karena saya telah membunuh seorang lelaki – beribu-ribu orang yang di bunuh tiap hari—tetapi karena mereka takut untuk emmbiarkan saya hidup. Mereka tahu bahwa selama saya masih hidup mereka tidak akan aman, saya akan membunuh mereka. Hidup saya berarti kematian mereka, kematian saya berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, perampokan, perampasan. Saya telah menang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena saya sudah tak lagi mempunyai hasrat untuk hidup, juga tidak lagi takut mati.” (hal.147)
“setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan” (hal.148)
***
Perempuan di Titik Nol yang di terjemahkan dari Women at point zero karya Nawal el-Saadawi menurut saya merukan sebuah pengungkapan cara menonjok para lelaki, bahkan tidak terkecuali raja atau pangeran. Firdaus telah mengendalikan hidupnya dan rela mati ketika kendali itu mampu diraihnya.
Tetapi satu sisi saya melihat kepicikan seorang Firdaus dalam melihat lelaki. Apa yang dilakukan Firdaus hanyalah rasa keputusasaan dalam menjalani hidup yang mendatangkan trauma. Kesadaran yang terlambat untuk menilai bahwa ayahnya adalah seorang yang baik. Hanya buat Firdaus.
Bahwa tidak ada yang memperjuangkan kita selain diri kita sendiri. Dan tidak ada orang lain yang mampu menjaga diri kita selain diri kita sendiri.
Popularity: 94% [?]

gowo buku piro tekan jakarta gawe sangu ndek aceh ceng?
cukuplah untuk bacaan 1-2 bulan ke depan ;)) hehehe.
nanti coba beli di gramet deh…sepertinya bagus and aku setuju tuh mas
Bahwa tidak ada yang memperjuangkan kita selain diri kita sendiri. Dan tidak ada orang lain yang mampu menjaga diri kita selain diri kita sendiri.
saya pernah baca buku ini, tapi udah lamaaaa banget & udah agak lupa.. thanks udah merefresh ingatan saya
btw
sering banget denger kata2 kaya gini.. jadi ngeri
Suatu hari kemaren, ada seorang temen yang hendak minjem buku ini. kepadanya saya mengatakan, sebelom baca buku ini sebaiknya kamu sudah punya prinsip tentang pandangan terhadap seorang lelaki. Jadi buku ini menjadi referensi, bukan menjadikan inspirasi.
Jadi demikian mbak Vin ya, ga usah takut untuk merid…. :d
dari dulu slalu pengen baca buku ini tap koq males ya belinya.. males karena bertema “gender”;))
mengerikan…:(
baca buku itu bikin bulu kuduk merinding…
seakan2 wanita ga ada harganya sama sekali,tapi…ga semua cowok gitu kan;))
belum baca…
pengin baca sich…
sebelom beli…
ada yg mo minjEmin…
buku keren!!!!!!!!!! kebebasan yang unik. sempet kaget waktu baca tapi melihat budaya yang di usung Nawal, pantes perempuan bisa kaya gitu. coba baca buku-buku nawal yang lain (menurut saya bagus). terkadang perempuan itu memang harus bebas dan melawan dari ketertindasan, perempuan harus bisa mensubjek dalam objek.
bisa bantu saya ingin tahu lebih banyak tentang perempuan dalam budaya mesir, terimakasih