Edensor, Semangat Mimpi

edensor“Taukah engkau, Ikal…?” “Langit adalah kitab yang terbentang…” “Sejak masa ozoikum, ketika kehidupan belum muncul, langit telah mencatat semua kejadian di muka bumi….” Pada setiap symbol ia bersabda, “Keseimbangan, perawan, Leo sang singa, matahari pertama musim panas, bintang kastor, musim menyemai benih…”

Zenit dan nadir, seperti akar ilalang yang menusuk-nusuk kakiku, menikam hatiku. Nanti, harus kujelajah separoh dunia, berkelana diatas tanah-tanah asing yang dijanjikan mimpi-mimpi, akan kutemui perempuan yang membuat hatiku kelu karena cinta, karena rindu yang menyiksa, untuk memahami kalimah misterius itu. Di kuburan usang, diantara nisan para pendusta agama itu, aku sadar aku telah belajar mencintai hidupku dari orang yang membenci hidupnya…

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

Menjadikan mimpi sebagai cita-cita dan tujuan hidup, mungkin untuk sebagian orang menganggapnya mustahil bahkan gila. Tak sedikit orang hanya menjadikan mimpi sebagai angan-angan yang seolah tak mungkin terjangkau, sehingga ia menyerah pada mimpinya, melupakannya, dan tenggelam dalam rutinitas hidup yang menjeratnya. Tapi tidak untuk Andrea Hirata. Dari mimpi dan berkhayal, Andrea mampu mengelilingi sebagian dunia, dari Eropa sampai Afrika.

“Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, termukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi si Spanyol.” (hal 34). Kalimat dari pak Balia, guru semasa SMA tersebut telah menghantui Ikal dan Arai. Mendatangkan angan, mimpi serta harapan.

Tentunya untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut tidaklah mudah, khususnya buat Ikal dan Arai yang berasal dari daratan pulau Belitung dengan perekonomian yang pas-pasan. Segala upaya di usahakan. Berawal dari mengikuti program beasiswa belajar ke Sorbonne, Prancis hingga perjalanannya sebagai bagpacker. Untuk membiayai perjalanannya mereka harus rela menjadi pengamen seni, yaitu menampilkan seni patung dimana Ikal dan Arai menjadi patung dan berdandan sebagai seekor putri duyung. Perjalanan mereka penuh tantangan, ketika kehabisan uang, mereka harus makan daun-daunan mentah untuk bertahan hidup. Namun Ikal dan Arai tak pernah menyerah, mereka manusia yang hidup dalam mimpinya. Hanya berbekal impian, keberanian dan tekad untuk memenangkan taruhan, mereka akhirnya mereka mampu melakukan perjalanan ke 42 negara di Eropa, Rusia hingga menjejakkan kakinya ke Afrika!

Tidak terlupakan dalam perjalanannya, Ikal masih setia dengan cintanya, A Ling, yang entah dimana berada. Dengan menggunakan teknologi internet, Ikal mencoba mecari A Ling. Ikal menemukan banyak A Ling, A Ling yang seorang nenek renta, A Ling yang merk obat kuat, sampai A Ling yang seorang pelacur. Pencarian yang masih panjang.

Popularity: 16% [?]

2 Comments »

  1. Comment by Squirell
    June 20, 2007 @ 8:24 am

    Untuk para manusia yang mendekati Edi ( termasuk yang komen ) bisa meningkatkan grade ke-Edi-an-nya dengan baca buku ini. Terutama buat yang punya saraf ketawa yang udah nggak kenceng lagi ( sekali lagi: termasuk yang komen )

    Buku ini serupa kitab ke~Edi~an yang dilegalkan oleh supremasi para pemimpi tingkat tinggi. Terlebih bagi mereka yang terlibat sama ikatan cenayangisme dan ngintilisme dalam hal makan memakan dan beli membeli!!! ( aku ki nulis opo seh? )^^

    *pasang tampang bengong*
    **dahi berkerut**
    ***mulut umak-umik***

    Menurut mbak Susan Bachtiar, di atas adalah gejala kekukarangan asupan ORYZA ZATIVA plus OD Kedelenensis…..

    [ comment by : mrs.edi ]

  2. Comment by Ria
    December 17, 2007 @ 3:47 pm

    udah punya yg sang pemimpin dan laskar pelangi…blom sempet ke gramedia lagi neh beli lanjutannya….

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment