“Taukah engkau, Ikal…?” “Langit adalah kitab yang terbentang…” “Sejak masa ozoikum, ketika kehidupan belum muncul, langit telah mencatat semua kejadian di muka bumi….” Pada setiap symbol ia bersabda, “Keseimbangan, perawan, Leo sang singa, matahari pertama musim panas, bintang kastor, musim menyemai benih…”
Zenit dan nadir, seperti akar ilalang yang menusuk-nusuk kakiku, menikam hatiku. Nanti, harus kujelajah separoh dunia, berkelana diatas tanah-tanah asing yang dijanjikan mimpi-mimpi, akan kutemui perempuan yang membuat hatiku kelu karena cinta, karena rindu yang menyiksa, untuk memahami kalimah misterius itu. Di kuburan usang, diantara nisan para pendusta agama itu, aku sadar aku telah belajar mencintai hidupku dari orang yang membenci hidupnya…
Kelanjutan cerita dari buku sebelumnya “Laskar Pelangi” yang ditulis oleh Andrea Hirata. Kalau pada Laskar Pelangi mengisahkan kehidupan keseharian ikal bersama kesepuluh teman “Laskar Pelangi”nya semasa masih SD-SMP, maka kisah Sang Pemimpi ini adalah masih kisah tentang memor Ikal ketika sekolah SLTA bersama dua orang temannya (Arai dan Jimbron) dalam menggapai mimpi dan cita-citanya.
LASKAR PELANGI. CINTA SEORANG MURID TERHADAP GURUNYA. Buku pertama dari Andrea Hirata, kisah yang sederhana tetapi disampaikan dengan bahasa yang lugas dan detil sehingga terasa lengkap enak dibaca.
Sebuah cerita yang di bangun berlatarbelakangkan kehidupan sekelompok anak-anak yang menamakan dirinya sebagai laskar pelangi, dengan segala pernik dan ragam hal yang di alami saat hidup masih terasa sangat lugu dan apa adanya.