Lebaran, Pertama tanpa Ibu
Lebaran tahun ini terasa banget bedanya. Selain perayaannya yang gak serentak antara NU dan Muhammadiyah, lebaran kali ini adalah untuk pertama kalinya tanpa ibu tercinta. Sedih banget rasanya…. Kehilangannya sangat terasa. Ibu, Maafkan salah dan dosa anakmu ini ibu….
Antara sedih, terharu, senang… semua bercampur-aduk gak karuan. Terlebih saat sungkem ke Bapak, untuk kali kedua seumur hidup aku melihat bapak menangis. Yang pertama ketika bermasalah dengan kakaku yang nomer empat, dan yang kedua adalah lebaran kali ini. Doa-doa panjangnya kini gak sanggup untuk terucap… terganti dengan sedan yg ada.
49 tahun sudah kebersamaan kedua orangtuaku. Waktu yang lama untuk memaknai sebuah kebersamaan. Dan kami semua merasakan kehilangannya.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu